SAATNYA SAYA BICARA
BAB 1 — Saatnya Gus Bro Berbicara Ada masa ketika Gus Bro memilih diam. Bukan karena tak punya jawaban, tetapi karena suasana belum memberi ruang untuk berbicara. Ia melewati pemeriksaan, penahanan, persidangan, hingga vonis. Semua dijalani dalam keadaan di mana menurutnya, suaranya tak pernah benar-benar terdengar. Sampai pada satu titik, ia mengambil keputusan penting: “Sekarang saatnya saya berbicara.” Bukan untuk melawan dengan emosi, tetapi untuk menyusun kembali kejadian demi kejadian sebagaimana yang ia alami sendiri. BAB 2 — Tekanan dari Banyak Arah Di hari-hari awal perkara itu berjalan, tekanan datang bertubi-tubi. Ada yang menyarankan Gus Bro untuk menghindar. Ada yang menyuruhnya mengamankan diri sebelum perkara melebar. Namun ia menolak. Baginya, jika ia lari, itu justru akan memperkuat tuduhan. Ia memilih tetap berada di tempatnya, menghadapi semuanya, meski ia merasakan opini publik seperti telah terbentuk sebelum persidangan dimulai. BAB 3 — Ruang Sidang yang Membuka F...